Jumat, 23 November 2012

Jenis-jenis Kalimat


Jenis kalimat dapat ditinjau dari sudut sudut (a) jumlah klausanya, (b) bentuk sintaksisnya, (c) kelengkapan unsurnya, dan (d) susunan subjek dan predikatnya. Berdasarkan jumlah klausanya, kalimat dapat dibagi atas kalimat tunggal dan kalimat majemuk. Kalimat tunggal dapat dibeda-bedakan lagi berdasarkan kategori predikatnya menjadi (1) kalimat berpredikat verbal, (2) kalimat berpredikat adjektival, (3)  kalimat berpredikat nominal (termasuk pronominal), (4) kalimat berpredikat numeral, dan (5) kalimat berpredikat frasa preposisional. Kalimat verbal dapat dikelompokkan, berdasarkan kemungkinan kehadiran nomina atau frasa nominal objeknya, atas (i) kalimat taktransitif, (ii) kalimat ekatransitif, dan (iii) kalimat dwitransitif. Kalimat majemuk juga dapat dubagi lagi atas (1) kalimat majemuk setara dan (b) kalimat majemuk bertingkat.
Berdasarkan bentuk kategori sintaksisnya, kalimat lazim dibagi atas (1) kalimat deklaratif atau kalimat berita, (2) kalimat imperative atau kalimat perintah, (3) kalimat interogatif atau kalimat tanya, atau kalimat eksklamatif atau kalimat seruan. Penggolongan kalimat berdasarkan bentuk sintaksisnya itu tidak terkait dengan fungsi pragmatis atau nilai komunikatifnya yakni fungsi pemakaian bahasa yang bertujuan untuk komunikasi. Kalimat interogatif, misalnya, memang lazim digunakan untuk meminta informasi  atau untuk bertanya, tetapi dalam konteks wacana tertentu dapat bermakna permintaan.
Dilihat dari segi kelengkapan unsurnya, kalimat dapat dibedakan atas (1) kalimat lengkap atau kalimat major dan (2) kalimat tak lengkap atau kalimat minor. Dari segi susunan subjek dan predikat, kalimat dapat dibedakan atas (1) kalimat biasa dan (2) kalimat inversi.
1.       Kalimat Tunggal
Kalimat tunggal adalah kalimat yang terdiri atas satu klausa. Misalnya :
(a)    Dia akan pergi
(b)   Kamu mahasiswa Unnes

1.1   Kalimat berpredikat verbal
Kamilat yang berpredikat verba dibagi menjadi tiga macam : (1) kalimat taktransitif, (2) kalimat ekatransitif, dan (3) kalimat dwitransitif.

1.1.1     Kalimat Tak Transitif
Kalimat yang tak berobjek dan tak berpelengkap, hanya memiliki dua unsure fungsi wajib, yakni subjek dan predikat. Contoh:
(c)    Bu Camat sedang berbelanja
(d)   Pak Halim belum datang

1.1.2     Kalimat Ekatransitif
Kalimat yang berobjek dan tidak berpelengkap mempunyai tiga unsur wajib, yakni subjek, predikat, dan objek. Dalam kalimat aktif urutan kata dalam kalimat ekatransitif adalah subjek, predikat, dan objek, tentu saja ada unsur tak wajib  Contoh:
(e)   Pemerintah akan memasok semua kebutuhan lebaran
(f)     Dia memberangkatkan kereta api itu terlalu cepat

1.1.3     Kalimat Dwitransitif
Dalam bentuk aktif, verba transitif secara semantis mengungkapkan hubungan tiga maujud. Dalam kalimat dwitransitif maujud itu masing-masing adalah subjek, objek dan pelengkap, contoh:
(g)    Ida sedang mencarikan adiknya pekerjaaan
Pada kalimat (g) ada dua nomina yang terletak di belakang verba predikat, kedua nomina itu masing-masing berfungsi sebagai objek dan pelengkap. Objek dalam kalimat aktif berdiri langsung di belakang verba, tanpa preposisi dan dapat dijadikan subjek dalam kalimat pasif.

1.1.4     Kalimat Pasif
Pemasifan dalam bahasa Indonesia dapat dilakukan dengan dua cara yaitu (1) menggunakan verba prefiks di-, dan (2) menggunakan verba tanpa prefiks di-. Cara yang digunakan dalam penmebtukan kalimat pasif:
1)      Cara Pertama
a.       Pertukarkanlah S dengan O
b.      Gantilah prefiks meng- dengan di-  pada P.
c.       Tambahkanlah kata oleh di muka unsure yang tadinya S

Pak Toha mengangkat asisten baru
Seorang asisten baru diangkat Pak Toha

2)      Cara Kedua
a.       Pindahkan O ke awal kalimat
b.      Tinggalkan prefiks meng- pada P.
c.       Pindahkan S ke tempat yang tepat sebelum verba

Saya sudah mencuci mobil itu
Mobil itu sudah saya cuci

1.2   Kalimat Berpredikat Adjektival
Predikat kalimat dalam bahasa Indonesia dapat pula berupa adjektiva atau frasa adjektival seperti terlihat pada contoh berikut :
(h)     Ayahnya sakit
(i)        Pernyataan orang itu benar

1.3   Kalimat Berpredikat Nominal
Dalam bahasa Indonesia ada macam kalimat yang predikatnya terdiri atas nomina (termasuk pronomina) atau frasa nominal. Dengan demikian, kedua nomina atau frasa nominal yang dijejerkan dapat membentuk kalimat asalkan syarat untuk subjek dan predikatnya terpenuhi. Syarat untuk kedua unsur itu penting karena jika tidak dipenuhi, maka jejeran nomina tadi tidak akan membentuk kalimat. Contoh :
(j)     Buku itu cetakan Bandung

1.4   Kalimat Berpredikat Numeral
Ada pula kalimat yang prredikatnya berupa frasa numeral, contoh:
(k)    Anaknya banyak
(l)      Uangnya hanya sedikit

1.5   Kalimat berpredikat Frasa Preposisional
Predikat kalimat dalam bahasa Indonesia dapat pula berupa frasa preposisional, contoh :
(m) Ibu sedang ke pasar
(n)   Mereka ke rumah kemarin

2.       Kalimat Dilihat dari Bentuk Sintaksis
Jika dilihat dari bentuk sintaksisnya, kalimat dapat dibagi atas (1) kalimat deklaratif, (2) kalimat interogatif, (3) kalimat imperatif, dan (4) kalimat eksklamatif.
2.1   Kalimat Deklaratif
Kalimat deklaratif juga dikenal sebagai kalimat berita, dalam pemakaian bahasa bentuk kalimat deklaratif umumnya digunakan oleh pembicara atau penulis untuk membuat pernyataan sehingga isinya merupakan berita bagi pendengar atau pembacanya. Kalimat berita dapat berupa bentuk kalimat apa saja asalkan isinya merupakan pemberitaan. Contoh :
(o)   Tadi pagi ada tabrakan mobil di dekat Monas
(p)   Saya lihat ada bus masuk Ciliwug tadi pagi

2.2   Kalimat Imperatif
Perintah atau suruhan dan permintaan jika ditinjau dari isinya, dapat diperinci menjadi enam golongan:
1)      Perintah atau suruhan jika pembicara menyuruh lawan bicaranya
2)      Perintah halus
3)      Permohonan
4)      Ajakan
5)      Larangan atau perintah negatif
6)      Pembiaran

2.2.1          Kalimat Imperatif Taktransitif
Kalimat imperative taktransitif dibentuk dari kalimat deklaratif (taktransitif) yang dapat berpredikat dasar, frasa adjektival, dan frasa verbal yang berprefiks ber- atau meng- ataupun frasa preposisional. Contoh:
(q)   Engkau masuk!
(r)     Tenang!



2.2.2          Kalimat Imperatif Transitif
Kalimat imperatif yang berpredikat verba transitif mirip dengan konstruksi kalimat deklaratif pasif. Petunjuk bahwa verba kalimat dapat dianggap berbentuk pasif adalah kenyataan bahwa lawan bicara yang dalam kalimat deklaratif berfungsi sebagai subjek pelaku menjadi pelengkap pelaku, sedangkan objek sasaran dalam kalimat deklaratif menjadi subjek sasarandalam kalimat imperative, contoh:
(s)    Carilah pekerjaan apa saja!
(t)     Belikanlah adikmu sepatu baru!

2.2.3          Kalimat Imperatif Halus
Ada sejumlah kata yang digunakan untuk menghaluskan isi kalimat imperative, seperti kata tolong, coba, silakan, sudilah, dan kiranya. Contoh :
(u)   Tolong kirimkan kontrak ini.
(v)    Silakan ke situ dulu.

2.2.4          Kalimat Imperatif Permintaan
Kalimat imperative juga dapat digunakan untuk mengungkapkan permintaan, kalimat seperti itu ditandai dengan kata mohon atau minta. Subjek pelaku kalimat imperatif permintaan adalah pembicara yang sering tidak dimunculkan, contoh:
(w)  Minta perhatian, Saudara-saudara!
(x)    Mohon diterima dengan baik.

2.2.5          Kalimat Imperatif Ajakan dan Harapan
Di dalam kalimat imperatif, ajakan dan harapan tergolong kalimat yang biasanya didahului kata ayo(lah), mari(lah), harap, dan hendaknya. Contoh:
(y)    Ayolah masuk!
(z)    Mari kita makan.

2.2.6          Kalimat Imperatif Larangan
Kalimat imperative dapat bersifat larangan dengan adanya jangan(lah), contoh:
(aa)     Jangan berangkat hari ini.
(bb)    Janganlah kau hiraukan tuduhannya.

2.2.7          Kalimat Imperatif Pembiaran
Yang juga termasuk golongan kalimat imperative ialah pembiaran yang dinyatakan dengan kata biar(lah) atau biarkan(lah). Sebetulnya dapat diartikan bahwa kalimat itu menyuruh membiarkan supaya sesuatu terjadi atau berlangsung. Dalam perkembangannya kemudian pembiaran berarti meminta izin agar sesuatu jangan dihalangi, contoh:
(cc)      Biarlah saya pergi dulu.


2.3   Kalimat Interogatif
Kalimat interogatif juga dikenal dengan nama kalimat Tanya, secara formal ditandai oleh kehadiran kata Tanya seperti apa, siapa, berapa, kapan, dan bagaimana. Contoh :
(dd)       Apa dia istri Pak Ahmad?

2.4   Kalimat Eksklamatif
Kalimat eksklamatif juga dikenal sebagai kalimat seru, secara formal ditandai dengan alangkah, betapa, atau bukan main. Kalimat eksklamatif juga disebut sebagai kalimat interjeksi biasa dinyatakan untuk menyebut kekaguman atau heran.


3.       Kalimat Tak Lengkap
Kalimat tak lengkap atau kalimat minor adalah kalimat yang tidak ada subjek atau unsure predikatnya. Hal tersebut biasa terjadi di dalam wacana karena unsur yang tidak muncul itu sudah diketaui pada kalimat sebelumnya.
(ee)           Amir : Kamu tinggal di mana, Min?
Amin : Di kampung Melayu.

Bentuk Di kampung Melayu sebenarnya merupakan bagian dari bentuk kalimat lengkap Saya tinggal di kampung Melayu.

4.       Kalimat Inversi
Urutan fungsi dalam bahasa Indonesia boleh dikatakan mengikuti pola: (a) subjek, (b) predikat, (c) objek (jika ada), dan (d) pelengkap (jika ada). Kalimat inversi yakni kalimat yang urutannya terbalik, umumnya mensyaratkan subjek yang tak terdefinit. Akan tetapi ada satu pola kalimat dalam bahasa Indonesia yang predikatnya selalu mendahului subjek.
(ff)  Ada Tamu, pak.


Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar