Minggu, 19 Februari 2012

Kata Serapan dari Bahasa Jawa Kuno




1.      Acara           
Dalam bahasa Jawa Kuno acara berarti tingkah laku; tindak-tanduk; kelakuan (baik).
Dalam bahasa Indonesia acara : 1 hal yg akan dibicarakan (dl rapat, perundingan, dsb); agenda, 2 hal atau pokok isi karangan, 3 segala sesuatu yg akan dipertunjukkan atau disiarkan; program (televisi, radio dsb): --  4 ark perkara; pemeriksaan dl pengadilan.
Analisis    :  Kata acara yang diserap dari bahasa Jwawa Kuno ke dalam bahasa Indonesia mengalami arti meluas karena acara yang dulu berarti tingkah laku yang baik kemudian setelah diserap dalam bahasa Indonesia, pengertian tersebut meluas menjadi segala sesuatu yang dipertunjukkan dan yang dibicarakan tidak hanya sebatas tingkah laku orang.

2.      Adem          
Dalam bahasa Jawa Kuno adem berarti sejuk; dingin.
Dalam bahasa Indonesia adem berarti 1 dingin; sejuk; 2 tenang; tentram (pikiran, hati); 3 tawar; hambar (rasa makanan).
Analisis    : Kata adem mengalami penyempitan makna ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia. Adem yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti sejuk kemudian dalam bahasa Indonesia adem menjadi lebih spesifik yang dapat berarti dingin, tenang atau bahkan makanan yang hambar.

3.      Agama         
Dalam bahasa Jawa Kuno  agama yaitu Ilmu; pengetahuan; hukum
Dalam bahasa Indonesia agama yakni ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) kepada Tuhan Yang Mahakuasa, tata peribiodata, dan tata kaidah yang bertalian dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya dengan kepercayaan itu; -- Islam; -- Hindu; Budha; -- Kristen; -- Katolik;
Analisis : Kata agama mengalami penyempitan makna karena dalam bahasa Jawa Kuno agama berarti sebuah ilmu atau pengetahuan sedangkan ketika diserap dalam bahasa Indonesia, kata agama mengalami penyempitan makna menjadi  lebih spesifik yakni  ajaran keimanan kepada Tuhan.

4.      Alun-alun    
Dalam bahasa Jawa Kuno  alun-alun yakni medan; lapangan.
Dalam bahasa Indonesia alun-alun yaitu tanah lapang yang luas di muka istana atau di muka tempat kediaman resmi gubernur (bupati, walikota).
Analisis : Alun-alun mengalami penyempitan makna karena dalam bahasa Jawa kuno alun-alun berarti lapangan, namun ketika diserap dalam bahasa Indonesia makna alun-alun menjadi lebih spesifik yakni tanah lapang yang luas dan berada di muka istana/bupati/gubernur.
5.      Asah            
Dalam bahasa Jawa Kuno asah yaitu gosok.
Dalam bahasa Indonesia asah yakni membuat sesuatu supaya tajam, runcing (pisau, tombak, dsb); 2 mendabung; memepat; meratakan (gigi dsb); 3 menyerudi; meghaluskan dan mengkilapkan (intan, permata, dsb); 4 kimelatih (membiasakan) supaya memiliki kemampuan: mari kita mengisi teka-teki silang ini untuk ~ otak; asahan n 1 alat untuk mengasah;
Analisis : Asah mengalami penyempitan makna karena dalam bahasa Jawa Kuno, asah berarti gosok, sedangkan dalam bahasa Indonesia kata asah menjadi lebih spesifik yakni tedak sekadar menggosok tetapi juga membuat sesuatu lebih tajam dan runcing.
6.      Asin
Dalam bahasa Jawa Kuno asin yaitu garam.
Dalam bahasa Indonesia, asin yakni rasa sbg rasa garam; masin; merasai-- garam, ki telah berpengalaman banyak (merasai kesusahan dsb).
Analisis : Asin mengalami penyempitan makna, dalam bahasa Indonesia asin tak berarti garam tetapi menyempit pada rasa yang dipunyai garam.

7.      Bangkit        
Dalam bahasa Jawa Kuno bangkit yakni  untung; bahagia.
Dalam bahasa Indonesia bangkit berarti 1 bangun (dr tidur, duduk) lalu berdiri: ia -- dr duduknya; ia –berdiri sambil mempersilakan tamu-nya duduk; 2 bangun (hidup) kembali: -- dr kubur; 3 timbul; terbit (tt marah): -- amarahnya mendengar ejekan itu; 4 kambuh (tt penyakit): penyakitnya yglama --; 5 beterbangan ke udara (tt debu dsb): debu pun -- ke udara; 6 mulai memuai (tt adonan): krn banyak raginya, adonan itu cepat --; -- hatinya timbul keberaniannya (kemarahannya);
Analisis : bangkit mengalami penyempitan makna karena ketika kata tersebut diserap ke dalam bahasa Indonesia, bangkit tidak hanya berarti untung tetapi lebih spesifik menjadi bangun atau hidup kembali

8.      Bangsawan  
Dalam bahasa Jawa Kuno, bangsawan yaitu berbangsa; luhur; bangsawan.
Dalam bahasa Indonesia, bangsawan artinya n keturunan orang mulia, terutama raja dan kerabatnya; ningrat
Analisis : bangsawan mengalami penyempitan makna karena dalam bahasa Indonesia bangsawan memiliki makna lebih spesifik yakni keturunan orang mulia, tidak sekadar orang yang luhur.

9.      Kalung
Dalam bahasa Jawa Kuno kalung adalah barang yang berbentuk lingkaran atau rantai yang dilingkarkan pada leher sebagai hiasan.
Dalam bahasa Indonesia, kalung yakni perhiasan yang terbuat dari emas, perak, dsb yang dilingkarkan pada leher sebagai hiasan.
Analisis : kalung mengalami penyempitan makna karena kalung yang dahulu hanya merupakan sebuah barang berbentuk lingkaran yang dikalungkan pada leher, sekarang dalam bahasa Indonesia kalung berarti perhisananberbentuk lingkaran yang dikalungkan pada leher.

10.  Abangan
Dalam bahasa Jawa Kuno, abangan adalah orang yang mengaku agama islam, tetapi tidak melaksanakan sembahyang.
Dalam bahasa Indonesia, abangan yakni golongan masyarakat yang menganut agama islam, tetapi tidak melaksanakan ajaran secara keseluruhan.
Analisis : abangan tidak mengalami penyempitan atau perluasan makna, makna setelah diserap dalam bahasa Indonesia tetap.

11.  Acar
Dalam bahasa Jawa Kuno, acar berarti pelengkap lauk pauk yang dibuat dari mentimun dipotong-potong dan dibumbuhi garam dan cuka
Dalam bahasa Indonesia acar adalah makanan yang terbuat dari buah-buahan atau sayuran,diberi rempah dan diasamkan.
Analisis : acar mengalami perluasan makna karena dalam bahasa Jawa Kuno acar hanya terbuat dari mentimun tetapi setelah diserap dalam bahasa Indonesia acar tidak hanya terbuat dari mentimun tapi dari segala buah-buahan.

12.  Abon
Dalam bahasa Jawa Kuno, abon yakni  lauk-pauk dari daging yang dipotong-potong kecil diberi bumbu dan digoreng.
Dalam bahasa Indonesia abon berarti makanan yang dibuat dari daging atau ikan rebus yang diserat-seratkan,dibumbui, kemudian digoreng.
Analisis : Abon tidak mengalami perluasan dan penyempitan makna atau makna tetap ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia.

13.  Wayang
Dalam bahasa Jawa Kuno wayang berarti boneka tiruan orang yang terbuat dari belulang;orang yang hanya menjadi alat.
Dalam bahasa Indonesia wayang adalah boneka tiruan yang terbuat dari pahatan kulit atau kayu dsb yang dapat dimanfaatkan untuk memerankan tokoh di pertunjukan drama tradisional (Bali,Jawa,Sunda,dsb),biasanya dimainkan oleh seseorang yd disebut dalang
Analisis : wayang mengalami perluasan makna karena dalam bahasa jawa kuno, wayang hanya dapat terbuat dari belulang tetapi ketika sudah diserap dalam bahasa Indonesia, wayang dapat terbuat dari kulit, kayu yang dimanfaatkan untuk pertunjukan drama tradisional.

14.  Tangan
Dalam bahasa Jawa kuno, tangan yakni anggota badan untuk memegang.
Dalam bahasa Indonesia tagan merupakan anggota badan dr siku sampai ke ujung jari atau dr pergelangan sampai ujung jari;sesuatu yang digunakan sebagai atau menyerupai tangan;kekuasaan.
Analisis : tangan mengalami penyempitan makna karena dalam bahasa Indonesia tangan terbatas dr siku sampai ke ujung jari atau dr pergelangan sampai ujung jari dan dapat merupakan simbol kekuasaan, sedangkan dalam bahasa jawa kuno hanya dejelaskan bahwa tangan merupakan anggota badan untuk memegang

15.  Tahi
Dalam bahasa Jawa Kuno tahi merupakan ampas makanan dari dalam perut yang keluar dari dubur.
Dalam bahasa Indonesia tahi adalah ampas makanan dari dalam perut yang keluar melalui dubur,tinja,berbagai-bagai kotoran,endapan,atau barang yang dianggap sebagai ampas(sisa,karat,buangan,dsb)
Analisis : tahi tidak mengalami perluasan atau penyempitan makna, maknanya tetap.

16.  Enak
Dalam bahasa Jawa kuno, enak berarti lezat ; memuaskan selera makan.
Dalam bahasa Indonesia enak adalah sedap,lezat; sehat atau segar ; nikmat atau menyenangkan ; pulas,lelap.
Analisis : enak tidak mengalami perluasan atau penyempitan makna, maknanya tetap.

17.  Indah 
Dalam bahasa Jawa Kuno indah artinya bagus,ajaib.
Dalam bahasa Indonesia indah yaitu keadaan enak dipandang ;cantik ;elok.
Analisis : indah mengalami penyempitan makna karena dalam bahasa Jawa kuno, indah dapat berarti ajaib tetapi tidak demikian dalam bahasa Indonesia

18.  Suduk 
Dalam bahasa Jawa Kuno suduk yakni tusuk ;keris ;anuduk menusuk ;menikam (dgn keris dsb).
Dalam bahasa Indonesia suduk adalah tikam
Analisis : suduk mengalami penyempitan makna karena dalam bahasa Jawa Kuno suduk dapat berarti tusuk, menikam, sedangkan dalam bahasa Indonesia suduk hanya bermakna menikam

19.  Lara
Dalam bahasa Jawa Kuno lara berarti sedih ;derita ;sakit ;penyakit.
Dalam bahasa Indonesia lara adalah sedih;susah hati;sakit.
Analisis    : lara tidak mengalami penyempitan atau perluasan makna, maknanya tetap.

20.  Usung
Dalam bahasa Jawa Kuno, usung berarti angkut.
Dalam bahasa Indonesia usung adalah bawa,angkut.
Analisis : usung mengalami perluasan makna karena dalam bahasa Indonesia usung tak hanya berarti mengangkut tetapi juga membawa.

21.  Sendhang
Dalam bahasa Jawa Kuno sendhang yakni kolam yang airnya berasal dari mata air yang ada di dalamnya ; sumber air.
Dalam bahasa Indonesia sendhang adalah kolam di pegunungan dsb yang airnya berasal dari mata air yang ada di dalamnya, biasanya dipakai untuk mendi dan mencuci, airnya jernih karena mengalir.
Analisis : Sendhang mengalami perluasan makna karena dalam bahasa Jawa Kuno sendhang hanya berfungsi sebaga sumber air sedangkan dalam bahasa Indonesia sendhang juga berfungsi sebagai tempat untuk melakukan aktivitas seperti mandi dan mencuci.

22.  Sengit
Dalam bahasa Jawa Kuno sengit adalah tidak menyenangkan; sangat benci.
Dalam bahasa Indonesia sengit yakni tajam, keras, dan sangat menyakiti hati (tentang perkataan)
Analisis : sengit mengalami perluasan makna karena dalam bahasa Jawa Kuno sengit hanya berarti tidak menyenangkan sedangkan dalam bahasa Indonesia sengit dapat berarti tajam, keras, dan sangat menyakiti hati.

23.  Pentil
Dalam bahasa Jawa Kuno pentil yakni buah yang masih kecil.
Dalam bahasa Indonesia pentil berarti putting susu; cembung sekali; buah yang masih muda sekali.
Analisis : Pentil mengalami perluasan makna karena dalam bahasa Jawa Kuno pentil hanya berarti buah yang masih kecil tetapi setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia, pentil meluas makna nya menjadi puting susu atau buah yang masih muda.

24.  Mapan
Dalam bahasa Jawa Kuno berarti mencari tempat; kehidupan yang sudah baik.
Dalam bahasa Indonesia mapan yakni mantap (baik, tidak goyah, stabil).
Analisis : mengalami perluasan makna karena dalam bahasa Indonesia mapan tak hanya berarti kehidupan yang sudah baik tetapi juga stabil

25.  Ampas
Dalam bahasa Jawa Kuno ampas yakni  sisa sesuatu yang diperas.
Dalam bahasa Indonesia ampas berarti sisa barang yang telah diambil sarinya atau patinya.
Analisis : Ampas mengalami penyempitan makna karena dalam bahasa Indonesia ampas tak hanya berarti sisa tetapi juga sari pati.

26.  Amis
Dalam bahasa Jawa Kuno amis yakni  bau ikan,anyir.
Dalam bahasa Indonesia amis adalah anyir (berbau seperti ikan)
Analisis : Amis tidak mengalami perluasan atau penyempitan makna, maknanya tetap.

27.  Alas
Dalam bahasa Jawa Kuno alas : tanah luas yang ditumbuhi banyak pohon ; hutan ; rimba raya ;ladang ; sawah
Dalam bahasa Indonesia alas adalah hutan rimba.
Analisis : alas tidak mengalami perluasan atau penyempitan makna, maknanya tetap.

28.  Emban
Dalam bahasa Jawa Kuno emban berarti pembantu perempuan yang tugasnya mengasuh
Dalam bahasa Indonesia emban adalah inang pengasuh.
Analisis : emban tidak mengalami perluasan atau penyempitan makna, maknanya tetap.

29.  Entas
Dalam bahasa Jawa Kuno entas adalah keluar dari air; angkat ke darat.
Dalam bahasa Indonesia entas berarti mengangkat dari suatu tempat ke tempat lain ; mengeluarkan dari lingkungan cairan.
Analisis : Entas mengalamu perluasan makna karena dalam bahasa Indonesi entas tidak hanya memindahg dari air ke daratan, tetapi juga dari suatu tempat ke tempat yang lain ealau tak ada hubungannya dengan air.

30.  Eka
Dalam bahasa Jawa Kuno eka berarti satu; sekata; tunggal.
Dalam bahasa Indonesia eka adalah satu; tunggal.
Analisis : eka tidak mengalami perluasan atau penyempitan makna, maknanya tetap.

31.  Galak
Dalam bahasa Jawa Kuno galak adalah galak, buas, marah.
Dalam bahasa Indonesia Galak : buas dan suka melawan; ganas; garang; suka marah
Analisis : galak tidak mengalami perluasan atau penyempitan makna, maknanya tetap.

32.  Sampur
Dalam bahasa Jawa Kuno: sandang; selendang

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar